Menuntut ilmu syar’i adalah termasuk ibadah yang mulia. Oleh karena itu, amalan ini selalu butuh kepada keikhlasan. Bagaimana bentuk mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu?
Dalam Kitabul ‘Ilm (hlm. 179-180 – Darul Iman) pada masalah yang ke-85 dijelaskan bahwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin – Rahimahullah – pernah ditanya tentang wujud keikhlasan dalam menuntut ilmu. Beliau menyebutkan bahwa keikhlasan dapat diwujudkan dalam lima bentuk,
- Berniat Imtitsal Amrillah (mengikuti perintah Allah).
Allah telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menuntut ilmu. Salah satunya dalam surat Muhammad ayat 19,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاستَغفِرْ لِذَنْبِكَ.
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali hanya Dia dan mintalah ampunan untuk dosamu”.
- Berniat Hifdzusy Syari’atillah (menjaga syariat Allah)
Syariat Allah akan terjaga apabila dipelajari oleh kaum muslimin. Apabila tidak dipelajari syariat ini akan terlupakan oleh masyarakat. Penjagaan ini dilakukan dengan dua perkara:
- Menjaga dengan dihafalkan di hati (Hifdzush Shodr).
- Menjaga dengan menulisnya (Hifdzus Sathr)
- Berniat Ad-Difa’ ‘Anisy Syari’ah (membela syariat)
Dengan adanya para ulama yang mengajarkan syariat ini kepada manusia, maka syariat akan terjaga dari orang-orang yang berusaha menghancurkannya, merusaknya dan merendahkannya. Dengan demikian, hendaknya penuntut ilmu memiliki niat untuk membela syariat ini ketika sedang thalabul ilm.
- Berniat Ittiba’usy Syari’ah (mengikuti syariat)
Hendaknya ketika seseorang mempelajari ilmu syar’I memiliki niat untuk mengamalkan dan mengikuti syariat ini. Tanpa mempelajarinya, maka seseorang tidak dapat mengamalkan syariat dengan benar dan sesuai dengan apa yang telah dituntunkan.
- Berniat Raf’ul Jahl (menghilangkan kejahilan)
Pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui apapun sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surat An-Nahl ayat 78,
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (78)
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani agar kamu bersyukur”. Oleh karena itu, hendaknya setiap penuntut ilmu berniat untuk menghilangkan kejahilan diri sendiri. Selain itu hendaknya memiliki niat pula untuk mengajarkannya dan menyebarkannya kepada manusia, sehingga kejahilan terangkat pula dari orang lain.
Mewujudkan niat yang lurus ini tidaklah mudah kecuali bagi orang yang diberikan taufiq oleh Allah ta’ala. semoga kita semua termasuk orang-orang yang ditolong untuk bisa meluruskan niat dalam menuntut ilmu. Amin.