Dalam surah Yusuf, ada dua penggalan ayat yang terulang dua kali dalam satu surat. Keduanya menjadi penutup dua ayat yang berbeda. Ayat ke berapakah itu? Apa kandungan yang terdapat di dalamnya? Berikut ini uraian ringkas tentang penggalan tersebut. Selamat menyimak.
Jika mencermati surat Yusuf, maka ada dua penggalan yang sama di penghujung dua ayatnya. Penggalan itu adalah
إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya kami melihatmu termasuk orang-orang yang berbuat baik”.
Kedua ungkapan ini berada di dua keadaan yang berbeda
Tatkala dalam penjara bertahun-tahun.
Ketika Nabi Yusuf – Alaihissalam – pernah dipenjara bersama dua orang pemuda, maka beliau pun berbuat baik di dalamnya.Allah menceritakan dalam firman-Nya,
وَدَخَلَ مَعَهُ السِّجْنَ فَتَيَانِ قَالَ أَحَدُهُمَا إِنِّي أَرَانِي أَعْصِرُ خَمْرًا وَقَالَ الْآخَرُ إِنِّي أَرَانِي أَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِي خُبْزًا تَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْهُ نَبِّئْنَا بِتَأْوِيلِهِ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan bersama dia masuk pula dua orang pemuda ke dalam penjara. Salah satunya berkata, “Sesungguhnya aku bermimpi memeras anggur”. Dan yang lainnya berkata, “Aku bermimpi membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung”. Berikalah kepada kami takwilnya. Sesungguhnya kami memandangmu termasuk orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Yusuf: 36).
Dalam Ma’alimut Tanzil, Imam Al-Baghawi (IV/241) – menyebutkan bahwa telah diriwayatkan bahwa Adh-Dhahhak bin Muzahim – Rahimahullah – pernah ditanya tentang firman Allah tersebut, “Sesungguhnya kami melihatmu termasuk orang-orang yang berbuat baik”, maka beliau menjawab,
كَانَ إِذَا مَرِضَ إِنْسَانٌ فِي السِّجْنِ عَادَهُ وَقَامَ عَلَيْهِ بالتعهد ، وَإِذَا ضَاقَ عَلَيْهِ الْمَجْلِسُ وَسَّعَ له وإذا احتاج إلى شيء جَمَعَ لَهُ شَيْئًا، وَكَانَ مَعَ هَذَا يَجْتَهِدُ فِي الْعِبَادَةِ، وَيَقُومُ اللَّيْلَ كُلَّهُ لِلصَّلَاة
“Apabila ada orang di penjara yang sakit, maka beliau menjenguknya, dan mengurusinya. Jika suatu majlis sempit, maka beliau melapangkannya. Jika ia perlu sesuatu, mengumpulkan untuknya. Bersamaan dengan itu pula, beliau bersungguh-sungguh dalam beribadah dan bangun melakukan shalat malam suntuk”.
Dalam keadaan sebagai orang yang tertawan dalam penjara, Nabi Yusuf – ‘Alaihissalam – tetap menjaga kebaikan. Beliau tidak berubah keadaannya meskipun dalam kondisi sedang kesempitan.
Ketika memiliki kedudukan tinggi.
Setelah Nabi Yusuf menduduki sebuah jabatan yang tinggi di Mesir, beliau pun tetap melakukan kebaikannya. Allah menyampaikan kisah perkataan saudara-saudara Yusuf yang berkata kepadanya,
قَالُوا يَاأَيُّهَا الْعَزِيزُ إِنَّ لَهُ أَبًا شَيْخًا كَبِيرًا فَخُذْ أَحَدَنَا مَكَانَهُ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِين
“Mereka berkata, “Wahai Al-‘Aziz! Dia mempunyai ayah yang sudah lanjut usia, karena itu ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat engkau termasuk orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Yusuf: 78).
Dalam Tafsirul Qur’anil ‘Adhim, Imam Ibnu Katsir (VIII/61-tahqiq Salamah) mengatakan, tentang makna “sesungguhnya kami melihatmu termasuk orang-orang yang berbuat baik”, maknanya adalah,
أَيْ: مِنَ الْعَادِلِينَ الْمُنْصِفَيْنِ الْقَابِلَيْنِ لِلْخَيْرِ
“Maksudnya adalah (engkau) termasuk orang-orang yang berbuat adil dan menerima kebaikan”.
Dari penggalan kisah di atas dapat diambil beberapa pelajaran penting bagi setiap muslim. Di antaranya adalah sebagai berikut,
- Nabi Yusuf adalah orang yang tidak berubah sikap dan perbuatannya karena status sosial yang beliau miliki. Ketika beliau dalam penjara termasuk orang-orang yang baik. Demikian pula ketika memiliki kedudukan yang tinggi.
- Terkadang seseorang mudah berubah tatkala kondisi finansialnya semakin baik atau status sosialnya semakin tinggi. Ia beranggapan bahwa apa yang diraihnya adalah semata-mata hasil usahanya sendiri, padahal itu adalah karunia dari Allah semata. Allah berfirman,
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah”. (QS. An-Nahl: 53).
- Sudah sepantasnya kita berdoa memohon ketetapan hati, agar selalu diberikan taufiq dan istiqamah. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah – Shallallahu ‘alaihi wasallam – mengajarkan doa berikut ini
اللَّهمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى والسَّدَادَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk dan ketepatan”.
Seorang penyair mengatakan,
إِذَا لَمْ يُعِنْكَ اللهُ فِيْمَا تُرِيْدُهُ … فَلَيْسَ لِمَخْلُوْقٍ إِلَيْهِ سَبِيْلُ
Apabila Allah tidak menolongmu dalam menggapai apa yang engkau inginkan,
Maka tidak ada satu makhlukpun yang dapat menolongmu.
Demikian sedikit ibrah yang diambil dari penggalan kisah Nabi Yusuf – Alaihissalam -. Semoga bermanfaat. Allahu A’lam bish Shawab.








